Makan di Indonesia, kok Simpan Uang di Singapura?

Juli 2016, Pemerintah Indonesia  resmi melalui Direktorat Jenderal Pajak membuka pendaftaran program pengampunan pajak (tax amnesty). Pendaftaran dibuka di seluruh Kantor Pajak Pratama (KPP).

Sederhananya tujuan utama pengampunan pajak (tax amnesty) adalah memberikan pengampunan kepada para Wajib Pajak yang lalai berupa penghapusan pajak terutang, sanksi administrasi dari pajak yang belum dibayar, dan pidana perpajakan. Sebagai gantinya, saya anda dan mereka sebagai wajib pajak yang lalai harus membayar uang tebusan.

Besaran uang tebusan berkisar antara 2 sampai 6 persen. Wajib Pajak yang mengajukan surat permohonan pengampunan pajak pada bulan pertama sampai akhir bulan ketiga sesudah udang-undang pengampuna pajak disahkan membayar uang tebusan sebesar 2 persen dari nilai harta bersih. Wajib Pajak yang menyerahkan permohohan pada bulan ke empat sampai akhir bulan ke enam akan membayar sebesar 4 persen, dan bila diajukan pada bulan ke tujuh sampai akhir 2016 akan membayar uang tebusan sebesar 6 persen.

katadata.jpg
Sumber: katadata.co.id

Untuk harta yang masih di luar negeri, besaran uang tebusan antara 1 sampai 3 persen dari nilai harta bersih per 31 Desember 2015. Sebelum mengajukan surat pengampunan, Wajib Pajak harus membawa harta tersebut masuk Indonesia dan diinvestasikan di tanah air. Untuk harta selain kas atau setara kas, Wajib Pajak harus menyertakan pernyataan kesanggupan mengalihkan harta tersebut ke Indonesia.

Harta kas atau setara kas yang dialihkan dari luar negeri wajib diinvestasikan paling singkat 3 tahun dalam bentuk surat berharga negara, obligasi milik badan usaha milik negara, atau investasi keuangan pada bank yang ditunjuk oleh menteri. Pada tahun ketiga, Wajib Pajak boleh mengalihkan investasi ke obligasi perusahaan swasta, investasi infrastruktur, investasi sektor riil berdasarkan prioritas yang ditentukan pemerintah, atau investasi di bidang properti. (sumber Rappler).

Mendengar hal ini Singapura meradang. Reaksi yang janggal, ada apa? Peraturan toh peraturan kita, uang dan kas yang ditarik toh juga punya Wajib Pajak yang merupakan Warga Negara Indonesia.

Reaksi negatif dari Singapura berupa pemboikotan beberapa produk dan perusahaan Indonesia, mengeluarkan perintah penangkapan direktur perusahaan asal Indonesia karena tidak memenuhi panggilan persidangan, dan menuding  6 perusahaan Indonesia sebagai penyebab kebakaran hutan. Padahal, ada juga perusahaan milik Singapura yang terbukti membakar 39 hektar lahan di Indragiri Hulu, Riau, dan beroperasi di hutan lindung.

spore.jpg
Sumber: tempo.com

Usut punya usut, dana Wajib Pajak Indonesia yang tersimpan di Singapura adalah sebesar kurang 3.000 (tiga ribu)  triliun rupiah. Sementara total uang simpanan di Perbankan Singapura adalah sebesar 5.300 (lima ribu tiga ratus) triliun rupiah. Artinya, uang Warga Negara Indonesia di sana ada sekitar 56% dari total keseluruhan simpanan perbankan Singapura.

Upaya penjegalan rencana tax amnesty Indonesia oleh Singapura, dilakukan dengan berbagai macam cara. Pemerintah Singapura menawarkan selisih uang tebusan kepada pemilik dana (Wajib Pajak) apabila para Wajib Pajak Indonesia tetap menyimpan uangnya di Singapura. Dan, tidak tanggung-tanggung, mereka pun  menawarkan hak kewarganegaraan di sana bagi yang tinggal satu rumah dengan warga Singapura. Bom!

Emang yutub yutub lebih dari tipi Singapura ini, bommm!

Bambang Brodjonegoro, yang saat itu (sekarang Ibu Sri Mulyani) masih menjabat Menteri Keuangan, menganggap upaya Singapura itu sebagai hal biasa. “Itu berita basi,” kata Bambang. Walaupun pemerintah Singapura sudah membantah, namun sentimen negatif terlanjur muncul. Presiden Jokowi sependapat dengan mantan Menterinya dengan alasan: “Iya dong karena uang yang terpakir di negara mereka dibawa kembali ke Indonesia. Siapa yang senang?”

Sebenarnya membahas tax amnesty erat hubungannya dengan corruption amnesty, sedekat jarak Batam yang belum sempat habis sebatang rokok dalam perjalanan ke Singapura. Dalam sejarahnya banyak sekali uang hasil korupsi yang mengedap di Singapura, tapi sayangnya Singapura tidak menandatangani Konvensi Persatuan Bangsa-Bangsa (PBB) tahun 2003 tentang anti korupsi. Perkara ini saya pikir, penting untuk diketahui oleh masyarakat sebanyak mungkin, agar dapat menyadari betapa menyebalkannya perilaku bertetangga yang dilakukan Singapura yang konon dicap sebagai negara tertib dan damai itu.

Jadi koruptornya bisa diekstradisi, tapi Singapura tidak menjanjikan pengembalian aset yang merupakan hasil korupsi di Indonesia. Mau enaknya, tapi ga mau anaknya. Tembak di dalam, pas hamil kabur.

Lewat program hal tax amnesty yang berusaha Pak Jokowi berusaha kembalikan sekarang adalah asetnya, aset-aset berupa harta kas atau setara kas. Karena gak ada orang yang suka disebut koruptor, jadi mending diampuni.

Seperti konsep beragama gitu deh.

Apalagi pertumbuhan ekonomi kita sedang dalam fase tertinggi dalam beberapa kuartal terakhir, sayang kalau ga diratakan dalam bentuk pembangunan infrastruktur sampai pedalaman kan ya. Dalam hal mitra dagang, sebenarnya Singapura merupakan yang terbesar kedua setelah Cina, penekanananya pada dagang bukan tentang kemitraan. Dan waktunya gantian kita yang untung dong.

Lagi-lagi mengutip kata-kata Pak Bambang si mantan Menteri “Dari satu sisi adanya tax amnesty akan sangat membantu upaya pemerintah memperbaiki kondisi perekonomian, pembangunan dan mengurangi pengangguran, mengurangi kemiskinan serta memperbaiki ketimpangan.”

Ya intinya demi perubahan yang lebih baiklah.

Seperti melupakan wanita yang meninggalkan kita saat sedang sayang-sayangnya, suatu perubahan tentunya tidak akan mudah tercapai. Namun usaha tidak akan menghianati hasil bukan?

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s